Aturan Produksi Bahasa Regular
Sebuah otomata berhingga menspesifikasikan sebuah bahasa sebagai himpunan semua untai yang menggerakkannya dari state awal ke salah satu dari state yang diterimanya (himpunan state akhir). Otomata berhingga pada gambar 1 menerima ekspresi regular:
a(a*∪b*)b
Selain dengan ekspresi regular, kita dapat mengkonstruksi aturan-aturan produksi untuk suatu tata bahasa regular. Kita ingat juga batasan aturan produksi untuk bahasa regular:
α → β
α adalah sebuah symbol variabel
β maksimal memiliki sebuah symbol variabel yang terletak di paling kanan bila ada. (bisa dibaca : α menghasilkan β), dimana α atau bisa berupa symbol terminal atau symbol non-terminal/variabel. Simbol variabel/non-terminal adalah symbol yang masih bisa diturunkan, sedang symbol terminal sudah tidak bisa diturunkan lagi. Simbol terminal biasanya dinyatakan dengan huruf kecil, missal a,b,c. Simbol non- terminal/variabel biasanya dinyatakan dengan huruf besar, missal A,B,C. Suatu tata bahasa (grammar) didefinisikan dengan 4 tupel (G={V,T,P,S}), dimana:
V = himpunan symbol variabel/non terminal
T = himpunan symbol terminal
P = kumpulan aturan produksi
S = symbol awal
Selanjutnya akan kita lihat bagaimana membuat kumpulan aturan produksi untuk suatu finite state automata.

Mengkonstruksi Aturan Produksi dari Suatu Finite State Automata
Dalam mengkonstruksi aturan produksi tata bahasa regular dari suatu finite state automata, perlu kita ingat yang menjadi perhatian kita adalah state-state yang bisa menuju ke state akhir. Mesin finite state automata di gambar 1 memiliki input ‘a’ dan ‘b’. Simbol ‘a’ dan ‘b’ akan menjadi symbol terminal pada aturan produksi yang akan kita bentuk. Misalnya kita tentukan symbol awal adalah S. Kita identikkan S dengan state awal q0. Dari q0 mendapat input a menjadi q1. Bisa kita tuliskan sebagai aturan produksi:
S → aE
dimana E kita identikkan dengan q1 (sebenarnya lebih tepatnya adalah bagian yang belum terbangkitkan mulai dari state q1). Kita bisa menambahkan symbol variabel baru setiap kali kita perlukan. Dari q1 mendapat transisi e (tanpa menerima input) ke q2 dan q3. Kita tuliskan:
E → A
E → B
bila kita identikkan q2 sebagai A, dan q3 sebagai B. Dari q2 mendapat input a tetap ke q2, dan dari q3 mendapat input b tetap ke q3, bisa kita tuliskan:
A → aA
B → bB
Selanjutnya kita lihat dari q2 mendapat input b ke q4, dan dari q3 mendapat input b ke q4, sementara q4 state akhir dan dari q4 tidak ada lagi busur keluar, maka bisa kita tuliskan:
A → b
B → b
Kumpulan aturan produksi yang kita peroleh bisa kita tuliskan sebagai berikut:
S → aE
E → A | B
A → aA | b
B → bB | b
Ingat ‘|’ berarti atau. Secara formal tata bahasa yang diperoleh dari otomata pada gambar 1:
V= { S,E,A,B}
T = {a,b}
P = { S → aE, E → A | B, A → aA | b, B → bB | b }
S = S
Kita lihat contoh lain pada gambar 2

Kita bisa mengkonstruksi aturan produksi untuk otomata tersebut:
T = {a,b}
S = S
Kumpulan aturan produksinya kita buat sebagai berikut:
S → aA | bB
(identikkan S untuk q0, A untuk q1, B untuk q4)
A → bC
(identikkan C untuk q2)
C → aS
(dari q2 mendapat input a ke q0)
( dari q3 tidak ada transisi keluar dan bukan state akhir maka transisi ke q3 kita abaikan)
B → bD
(identikkan D untk q5)
D → bS
(dari q5 mendapat input b ke q0)
( dari q6 tidak ada transisi keluar dan bukan state akhir maka transisi ke q6 kita abaikan)
Pada kasus ini kita lihat q0 sebagai state akhir masih memiliki transisi keluar, maka untuk menandakannya sebagai state akhir kita buat:
S → ε
*Bedakan dengan kasus gambar 1 dimana state akhir q4 tidak memiliki transisi keluar.
Maka diperoleh:
V = { S,A,B,C,D}
P ={ S → aA|bB|ε, A → bC, B → bD, C → aS, D → bS }
Sebenarnya aturan produksi diatas masih dapat disederhanakan menjadi:
P ={ S → aA|bB|ε, A → baS, B → bbS }
Sehingga mereduksi jumlah symbol variabel yang diperlukan.